Thursday, September 15, 2005

Nyantai Dulu di Lantai 47


DUH leganya berada di kemacetan Jakarta kembali. Lho!!! Kok aneh?

Ya! Setidaknya itu yang kurasakan tadi sore. Daripada terpenjara di depan komputer, di alam maya, lebih baik di udara terbuka, di alam nyata, di tengah kemacetan dan polusi --yang bagi banyak orang merupakan "neraka" sekali pun!

Aku menembus kemacetan dengan motorku menuju lantai 47 Wisma BNI 46, tepatnya di Cilantro Lounge. Bukan sengaja nyantai di kafe yang berada di atap menara serupa pensil itu. Kebetulan, aku dapat undangan peluncuran perangkat printer-copier-fax-scanner dari sebuah produsen mesin fotokopi terkemuka.

Jadi, tujuannya sih nyantai. Sambil nyantai dengan secangkir kopi plus krimer, aku juga dapat bahan tulisan buat rubrik Teknologi & Sains Gatra.com.

Penjelasan keunggulan perangkat berteknologi tinggi yang dipresentesikan Mr. Vincent dan Mr. Jeffrey dari Singapura dengan bahasa Singlish yang kental, tak begitu kuhiraukan. Berbeda dengan sewaktu di SMA dulu, meleng dikit pas guru menerangkan, kapur atau penghapus papan tulis, melayang ke kepala. Tapi, ini kan undangan. Konferensi pers, lagi.

Sambil mendengarkan presentasi Mister Vincent dan Mister Jeffrey -sampai mulutnya (mungkin) berbusa-busa- aku sibuk menyapukan pandangan ke arah panorama kota Jakarta yang udaranya diselimuti kabut putih (mungkin akibat polusi yang sudah melampaui ambang batas) itu.

Kulihat gedung-gedung yang semuanya tak ada yang menyamai tingginya gedung yang sedang kutempati, jalan KH Mas Mansyur-Tanah Abang yang dipadati kendaraan, kuburan Karet Bivak yang tanah merahnya yang dingin pernah kurasakan sewaktu turut menguburkan jenasah seorang teman kantor, dan... apa itu? Benda sebesar upil bergerak-gerak di atas kolam berliku warna biru.

Ternyata, ehm, seseorang yang sedang berenang dengan anggunnya di sebuah kolam renang hotel, nun jauh di bawah sana (nggak keliatan kok, cowok apa cewek. Soalnya keciiiil sekali). :D

Foto dari BNI Card Center

0 Comments:

Post a Comment

<< Home