Sunday, February 06, 2011

Mengajar Teman-teman

Menerangkan hal yang rumit dengan bahasa simpel [Foto: Irwansyah/Ruhama]

Kebayang nggak sih, sama anak-anak seusia Fay, termasuk sama Fay sendiri, aku manggil "teman-teman"? Itu terjadi waktu mengajar IPS di kelas gabungan 6 Al Hadid dan 6 Al Fajr SDIT Ruhama Depok, membicarakan topik "Globalisasi Teknologi Informasi." (Aku mengajar dimintai tolong sama guru IPS-nya Fay).

Topik aktual yang berat itu, aku usahakan seringan mungkin, dengan cara bercerita plus gambar-gambar dari power point, biar bisa dicerna anak-anak. Aku sendiri memanggil diri sebagai "Pak Tian" (keterlaluan, kalau memanggil diri pake embel-embel "Kak", "Bang", "Mas", atau "Kang"). Selisih usia saja lebih 30 tahun. Lagipula, mereka kan temannya anak. Anak-anak.

Respon yang tak terduga, terlontar dari seorang "teman kecil" ikhwan (laki-laki), waktu aku menunjukkan gambar Hieroglyph, tulisan Mesir Kuno yang digunakan sebagai bahasa simbol pada pahatan batu.

"Pak, itu artinya apa?" tanya seorang anak laki-laki.

"Oh, saya tidak tau. Itu bahasa Mesir Kuno," jawabku spontan.


Hieroglyph pada pahatan batu [zeithmind.blogspot.com]

*Hayo, siapa di antara pembaca blog ini yang mengerti bahasa Mesir Kuno?

Selanjutnya, cerita bergulir mulai dari teknologi telekomunikasi kuno berupa asap yang digunakan orang Indian, telegraf, telepon, hingga internet.

Nah, bicara soal internet, aku analogikan "dunia maya" itu seperti kita memasuki hutan belantara. (Aku tanya "teman-teman", apakah ada yang pernah ke hutan. Beberapa anak laki-laki mengacungkan tangan).

Aku jelaskan kalau memasuki dunia maya itu perlu seorang pendamping (ayah dan bunda masing-masing). Sebab kalau tidak, kita bisa tersesat atau mengalami bahaya.

Lalu, pelajaran IPS dengan guru tamu itu diakhiri dengan permainan. Permainnya berupa pesan berantai (kelas dibagi ke dalam empat kelompok), dan menggunakan pesawat telepon benang (dari tabung bekas botol plastik air mineral yang diberi membran bekas kantor kresek), dengan benang sepanjang delapan meter.

Intinya, aku ingin menunjukkan, kalau berkomunikasi menggunakan alat "telekomunikasi" (telepon benang), lebih mudah menyampaikan pesan ketimbang menggunakan cara tradisional dari mulut ke kuping (pesan berantai). Dan anak-anak mengakuinya. "Gampangan pake telepon, Pak!" ujar anak-anak, seusai permainan.

Pelajaran satu jam lebih itu pun diakhiri, dan aku berangkat ke kantor dengan mengantongi satu lagi "jam terbang" mengajar. [SMP sudah, SD sudah. Tinggal SMA dan mahasiswa ] .

Catatan: satu yang menarik, ternyata para akhwat (anak perempuan), cenderung lebih memerhatikan pelajaran ketimbang para ikhwan yang lebih banyak becanda.

Labels: ,

Monday, January 24, 2011

Mengajar, Kenapa Tidak?


Mengajar bukanlah hobiku, apalagi keahlianku. Tapi setelah disadari, kegiatan transfer ilmu pengetahuan dan pengalaman penting. Setidaknya bagiku, biar ilmu bisa diamalkan ("Sampaikanlah walau satu ayat." [HR Bukhari]), dan bisa berbagi pengalaman. Para murid pun, kalau tidak mendapat banyak ilmu dariku, paling tidak, bisa mendapat pengalaman baru.

Maka, ketika seorang guru di sekolah Fay, anakku, menawariku untuk berbagi pengalaman soal teknologi informasi dan globalisasi bersama teman-teman kecil (baca: murid) kelas 6 SD, aku pun mengiyakan.

Berinteraksi dengan anak seumuran Fay, pasti seru. Apalagi mereka sejak kelas 1 sudah dibiasakan dengan "kemerdekaan" di kelas. Kemerdekaan dalam mengemukakan pendapat dan perasaan mereka.

Kegiatan sharing pengalaman ini dimulai Senin pekan depan (31/1).

Sebelumnya, sekitar akhir 2009, aku pernah menerima tawaran seorang teman kuliah yang menjadi guru di sebuah SMP berasrama di Cisaat, Sukabumi, yakni memberikan pelatihan Dasar-dasar Jurnalistik.

Aku pun datang dan berbagi pengalaman Ilmu Jurnalistik yang kudapat di bangku kuliah dan kantor tempat aku bekerja, dalam Mini Workshop yang digelar sekolah itu. Ternyata, sambutannya cukup antusias.

Para ABG yang (oleh sekolahnya) dibiasakan bebas berekspresi itu memberikan pengalaman baru bagiku. Mereka pun mau terlibat aktif dalam pelatihan singkat itu.

* * *
"Saya mau kuliah lagi di S-2, lalu menjadi dosen," ujar abangku, yang bekerja di perusahaan swasta, kemarin (23/1). Setelah lebih dua dekade menjadi profesional di bidangnya, abangku akhirnya kepikiran untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada para mahasiswa.

"Biar ilmu tidak percuma dan bisa bermanfaat bagi orang lain," katanya, tentang alasan untuk kembali ke kampus.

You see? Pengajar dan yang diajar sebenarnya saling membutuhkan. Pengajar, orang yang membagi ilmu dan pengalamannya, setidaknya bisa menyalurkan kebutuhannya untuk --apa yang disebut Abraham Harold Maslow (1908 - 1970)-- aktualisasi diri.

Foto: Aku saat memberikan pelatihan di SMP Alkausar Boarding School [Rachmawati/Alkausar]

Labels: ,