Sunday, May 01, 2016

Mengenal Honda Supra


Sepeda motor "bebek" (cub/underbone) rakitan PT Astra Honda Motor (AHM) ini mulai dipasarkan pada 1997 untuk pasar Asia, termasuk Indonesia. Nama Supra hanya digunakan di Indonesia. Negeri asalnya (Jepang), juga Tiongkok, dan Korea, menggunakan nama Honda Dream. Sedangkan untuk ASEAN (selain Indonesia), Honda Wave, dan untuk India dan negara-negara di Asia Selatan, Honda Future.

Supra menjadi sepeda motor paling laris di Indonesia. Maklum, apa pun keluaran pabrikan berlogo sayap ini, selalu diserbu konsumen, karena Honda bagi konsumen Indonesia adalah jaminan mutu dan juga keiritan konsumsi BBM-nya dibanding para kompetitornya. Supra merupakan penerus dari generasi pendahulunya; Astrea Grand, Impressa, dan Legenda.

Generasi pertama (1997-2001)

Honda Supra (yang masih bernama Astrea) generasi pertama berkapasitas mesin 97,1 cc (dibulatkan jadi 100), dengan kode mesin C100. Fiturnya sangat sederhana, menggunakan rem tromol di depan dan belakang. Supra merupakan motor bebek dengan kapasitas mesin terkecil jika dibandingkan dengan kompetitor lainnya yang sudah mengusung mesin 110 cc (2 tak atau 4 tak) dan 125 cc (4 tak), pada generasi yang sama, namun mesin 100 cc ini memiliki tenaga dan kompresi yang lebih tinggi jika dibandingkan mesin skuter dengan kapasitas yang sama.

Generasi kedua (2001-2005)

Masih mengusung jenis mesin yang sama. Sekitar tahun 2000 Honda menerapkan rem cakram di roda depan, dengan embel-embel huruf "X" menjadi Supra X. Generasi kedua ini sudah tidak lagi menggunakan nameplate Astrea, meskipun emblem Astrea Supra di bawah lampu depan tetap dipertahankan.

Tahun 2002, PT AHM meluncurkan dua varian baru Honda Supra, yakni Honda Supra XX (kopling manual dan rem cakram depan) dan Supra V (kopling manual, rem tromol depan, tanpa starter elektrik, melainkan dengan engkol biasa). Tetapi kedua model ini tidak sukses di pasaran dan produksinya dihentikan pada 2004. Tahun 2003 untuk memantapkan dominasi Honda Supra, AHM kembali meluncurkan varian Supra edisi ekonomis berlabel Supra Fit (rem teromol), yang menemani Honda Supra (rem cakram) hingga 2009-2010. Pada 2007 namanya berganti menjadi Fit X, bersamaan dengan hadirnya generasi ketiga.

Kelemahan dari Supra dan Supra 100 ini adalah tenaga mesinnya yang kalah kuat dan kalah cepat dari kompetitornya (terutama Yamaha dan Suzuki), yang sudah menggunakan mesin 110 cc, sedangkan Supra masih 100cc (97,1 cc). Mesin 100cc ini tetap bertahan hingga tahun 2010 melalui Honda Fit X dan Honda Revo 100 -yang merupakan generasi penerus dari Supra Fit.

Revo 100, Supra Fit, dan Fit X discontinue pada 2011, digantikan Revo 110, yang merupakan motor bebek pertama Honda bermesin 110cc.

Generasi kedua Revo diperkenalkan pada 2011, yang memiliki desain headlight dan bodi yang berbeda, serta mengaplikasikan injeksi PGM-FI untuk seluruh variannya mulai tahun 2013.

Generasi kedua ini juga memiliki varian bertransmisi otomatis dengan nama Revo Techno AT, tetapi model ini tidak sukses di pasaran dan discontinue pada 2015.

Generasi ketiga (2005-saat ini)

Pada tahun 2005, AHM memperkenalkan Honda Supra X 125 dengan desain dan mesin baru, termasuk varian PGM-FI (Programmed Fuel Injection) yang tercatat sebagai motor bebek berteknologi injeksi pertama di Indonesia. Pada 2007, AHM merilis Honda New Supra X 125 dengan perubahan desain bodi baru yang lebih sporty.

Mesin 125 cc ini pada awalnya diambil dari dua model terdahulu, yakni Karisma, Karisma X, dan Kirana, yang merupakan motor bebek pertama Honda bermesin 125cc. Karisma dilengkapi rem cakram depan, sedangkan Kirana versi "pahe"-nya yang menggunakan rem teromol. Hanya saja di Supra X mengalami sedikit peningkatan pada tenaga dan torsi.

Supra X 125 terbagi menjadi dua varian, 125 R dan 125 D. Perbedaannya: 125 R menggunakan rem cakram depan dan belakang, velg racing, indikator bensin digital, serta pedal tuas gigi yang dapat diungkit seperti pada motor sport. Sedangkan 125 D adalah varian standar yang tetap menggunakan velg jari-jari dan rem belakang tromol, serta tuas gigi konvensional. Varian 125 D dan 125 R, masing masing berganti nama menjadi SW (spoke wheel/pelek jari-jari) dan CW (casting wheel/pelek racing) pada tahun 2010.

Pada tahun yang sama, AHM juga meluncurkan varian tambahan untuk Supra Fit dengan nama Supra Fit R, yang dilengkapi dengan velg racing dan desain menyerupai Supra X 125 R.

Pada penghujung tahun 2011, AHM meluncurkan Honda Supra X 125 Helm in, dengan bagasi super besar (berkapasitas 19,5 liter) yang bisa dimasuki helm full face, dan tangki BBM dengan kapasitas terbesar di segmen bebek, yaitu 5,6 liter. Selain itu, tipe ini memiliki desain yang modern-elegant yang dilengkapi dengan mesin yang bertenaga namun efisien.

Honda Supra telah mendominasi pasar motor bebek nasional dengan mencatatkan rekor penjualan yang luar biasa. Hal ini semakin mengukuhkan Honda sebagai "Rajanya Motor Bebek".

Sumber: Wikipedia
Foto-foto: Googling

Labels: , , ,

Monday, April 25, 2016

Mengenal Suzuki Shogun

Sejarah motor underbone, cub, atau populer di Indonesia dengan sebutan "motor bebek" Suzuki Shogun, lumayan panjang. Nama Shogun mulai digunakan PT Indomobil Niaga International (IMNI) untuk bebek 4-tak pertamanya sejak 1995.

Shogun (bahasa Jepang, yang berarti "Jenderal") adalah sepeda motor yang paling lama umurnya dibanding tipe motor Suzuki lainnya, karena masih dijual dan diproduksi hingga sekarang. Shogun juga merupakan motor bebek fenomenal karena merupakan sepeda motor bebek 4-tak tercepat di zamannya ketika itu. Dalam perkembangannya, beberapa langkah yang diambil produsen ini sempat membingungkan pasar, yang pada ujungnya menurunkan angka penjualan.

Saat Suzuki Shogun 110 sedang populer, IMNI secara tiba-tiba menghentikan produksinya. Nama itu kemudian digunakan untuk Suzuki Shogun versi 125cc atau Shogun 125. Peningkatan kubikasi mesin ini terjadi pada awal 2004. Kemungkinan Suzuki ingin "menghajar" Honda Karisma (125cc), yang saat itu menjadi pemain tunggal.

IMNI selalu punya jurus tersendiri dalam memperkenalkan produk ini, lewat kegiatan Suzuki Jelajah Negeri. Ajang ini merupakan pembuktian ketangguhan Suzuki Shogun. “Ini membuktikan ketangguhan Shogun serta keunggulan lainnya,” ujar Subronto Laras, Presiden Direktur PT Indomobil Suzuki International saat itu, pada akhir perjalanan SJN III, yang menempuh jarak 20.000 km.



Shogun generasi pertama, yang mulai diproduksi pada 1995, dengan bodi dan rangka memakai kepunyaan Tornado, motor bebek 2 tak Suzuki. Keluar pertama kali dengan rem depan tromol/drum, dan setelah beberapa lama muncul Shogun R dengan rem depan cakram. Shogun 110 tipe pertama adalah pelopor uji ketahanan mesin dengan rekor MURI 24 jam nonstop dan Shogun sukses dalam Suzuki Jelajah Negeri 1 pada 1996.


Shogun generasi kedua diperkenalkan pada 2000 dengan label New Shogun 110. Tampil dengan bodi ramping tetapi mesin bertenaga. Pada tahun inilah Shogun mengalami masa keemasan dari segi penjualan, dan digelari "Rajanya Bebek 4 Tak". Saat itu Suzuki hampir mendahului kompetitornya yang berlogo sayap, yang selalu bertengger di posisi puncak. Bahkan di sebagian wilayah Jawa Timur, penjualan Shogun mampu melebihi pabrikan tetangga itu. Untuk wilayah Jember, Shogun mendapatkan gelar The Best share atau penjualan terbaik.


Shogun generasi ketiga diluncurkan pada 2004, dengan kapasitas mesin ditingkatkan menjadi 125cc, dengan nama Shogun 125. Untuk kelas 110cc, Suzuki meluncurkan Smash. Shogun 125 dilengkapi dengan berbagai fitur, seperti kunci kontak magnet dan bagasi ekstra luas.


Tidak lama kemudian, pada 2005 Suzuki mengeluarkan Shogun Sport Production (SP), dengan velg CW (casting wheel/racing), rem cakram depan lebih lebar, plus rem cakram di bagian belakang. Shogun SP juga dibekali kopling manual, untuk menambah akselerasi awal bagi konsumen yang senang tarik-tarikan. Shogun 125 juga telah diujicobakan dalam Suzuki Jelajah Negeri 2 dan Uji ketahanan 48 Jam nonstop.


Pada 2007, Shogun generasi keempat lahir. Kali ini, sektor mesin juga turut dibenahi. Mesin Shogun 2007 dilengkapi engine balancer (penyeimbang anti-getar), yang menjadikan Shogun bebas getar. Penyempurnaan lainnya, di sektor karburator dilengkapi sensor. Inovasi lainnya adalah lampu belakang New Shogun 125 memakai LED (Foto: balancer yang diaplikasikan pada mesin Shogun).


Pada 2011, Shogun generasi kelima lahir, diberi nama Shogun Axelo. Shogun Axelo juga telah melewati ujian berat dalam Uji ketahanan 100 jam nonstop di sirkuit Balipat, Binuang, Kalimantan Selatan.


Edisi setelah itu, Suzuki menerapkan strategi warna, yaitu hampir semua produknya bisa memilih Night Rider color, yang didominasi dengan warna hitam. Dominasi warna hitam akan memberikan kesan power. Disamping itu juga memberikan kesan thin/slim. Mungkin tujuan dari Night Rider (NR) hanya untuk memberi ekslusifitas kepada pengendaranya.


Turunan teranyar dari Sang Jenderal adalah New Shogun 125 Hyper Injection FI. Tipe baru ini memiliki performa yang lebih sempurna dibanding dengan produk lain, karena distribusi bahan bakar lebih baik, dengan campuran udara dan bahan bakar yang disuplai dengan jumlah yang sesuai ke silinder. Putaran stationer lebih lembut karena campuran bahan bakar dan udara yang kurus tidak menjadikan putaran mesin kasar. Bahan bakar menjadi irit, karena efisiensi tinggi. Selain itu, juga menghasilan emisi gas buang rendah.


Demikianlah sejarah Suzuki Shogun, motor berkualitas namun  "kurang mendapat sambutan dari pasar".  :)

Sumber: berbagai sumber (googling)

Labels: , , , ,