Tuesday, July 11, 2017

Test Drive


Jadi peliput bidang otomotif nggak jauh-jauh dengan urusan test drive alias menjajal produk baru mobil. Aku, yang statusnya hanya wartawan pengganti atau "pengganjal" saat yang lain (wartawan otomotif di kantorku) sibuk dengan acaranya sendiri, alhamdulillah beberapa kali kebagian mengikuti test drive dari beberapa APM (agen pemegang merek).

Pertama, waktu mengetes GPS yang dipasangkan pada Honda Freed dan Honda CRV, dengan rute Jakarta-Bandung-Jakarta, lebih beberapa waktu lalu. Semuanya ada 10 mobil; 5 Freed dan 5 CRV. Berhubung kedua mobil honda itu bertransmisi matik, sedangkan aku bisanya nyetir yang bertransmisi manual, aku putuskan untuk menjadi penumpang saja.

Padahal petugas humas PT HPM sudah menawariku untuk membawa salah satu CRV. Tapi aku lebih memilih duduk di kursi penumpang saja.

Kedua, waktu test drive All-New Toyota Avanza ke Sumatera Barat, beberapa waktu lalu, atas undangan PT TAM. Sepuluh unit Avanza wajah baru (1.3 manual, 1.3 matik, 1.5 manual, 1.5 matik) dites oleh belasan wartawan, dengan rute Padang-Bukittinggi-Payakumbuh-Lembah Harau PP.
Image result for toyota avanza test drive padang
Kali ini aku ikut menjajal, pas dapat giliran Avanza tipe 1.3 manual. Itu pun tak jauh, dari Bukittinggi ke Padangpanjang (40 kilometeran).

Setelah itu kemudi diambilalih sama wartawan-wartawan muda, yang mengemudi dengan gaya angkot mengejar setoran. *Mungkin aku terlalu tua untuk dibawa kebut-kebutan. :P


Nah, yang ketiga, test drive All-New Ford Focus di Krabi, Thailand, beberapa waktu lalu. Entah kenapa, si bos memilihku untuk berangkat ke sana. Mungkin ini sudah rezekiku. Kebetulan, paspor baru dibikin beberapa bulan sebelumnya, atas biaya kantor.

Karena Thailand sesama negara ASEAN, aku cukup mengirimkan scanning NPWP via humas PT FMI sebagai pengundang. Jadilah bebas visa.

Jauh-jauh hari, bosku memintaku membuat SIM internasional. Katanya, biar bisa turut merasakan test drive di negeri gajah putih itu. Karena berdasarkan pengalamannya test drive All-New Ford Ranger, rute test drive merupakan rute antar-kota. Artinya, memasuki jalan umum yang terikat aturan lalu lintas, tak hanya di areal pabrik.

Tapi aku tak menuruti permintaannya membuat SIM internasional. Terus terang, males juga bikin SIM yang hanya berlaku setahun dan (kemungkinan besar) hanya dipakai sekali itu. Kalau pun tak diperbolehkan bawa mobil di sana, aku sih pasrah saja.

Ternyata saat perjalanan dari Bandara Internasional Krabi (1,5 jam penerbangan dari Bangkok, dan Bangkok 3 jam penerbangan dari Jakarta), aku iseng tanya sama bos PT FMI, yang dijawab dengan cueknya; "Ah nggak perlu pake SIM internasional segala." Aku cuma melongo.

Pada hari kedua di Thailand (Senin, 9/7), test drive pun dimulai. Setelah sekitar 3 jam presentasi dan briefing di hotel, kami pun dibawa ke deretan mobil baru Ford Focus yang akan dites. Berhubung satu mobil diisi dua wartawan, dan teman satu mobilku belum mahir menyetir, jadi urusan menyetir sepenuhnya diserahkan padaku.

Masalahnya, Ford Focus (sedan maupun hatchback) transmisinya otomatik. Aku kan sama sekali belum pernah menyetir mobil matik? Tapi aku tak mau bilang terus terang, melainkan pede aja. Begitu kulongok ke dalam kabin, di tongkat persneling, selain fungsi-fungsi P, R, N, D, juga ada S. Apa itu S?

Aku tanya saja pada wartawan yang sudah biasa melakukan test drive. Ternyata S itu sport. Maksudnya, untuk mengemudi bergaya balap atau lebih cepat dari biasanya.

Setelah ada aba-aba dari team leader untuk test drive hari itu, lewat handy talkie, kami pun berangkat untuk menempuh rute Sheraton Hotel-Thanbok Khoranee National Park-Nop Ping SAO-Borsaen Villa-Plai Pharaya-Super Highway 44-Sheraton Hotel. Total jarak yang akan kami tempuh tak kurang dari 255,4 kilometer!

Berdasarkan brosur "Media Drive Route", panitia lokal Thailand sudah menetapkan pergantian sopir sebanyak 4 kali, mengingat jauhnya jarak tempuh test drive itu. Sedangkan aku, berhubung teman perjalanan tak pandai nyetir, yang seharusnya sopir berganti-ganti, aku tekel sendiri.

Ternyata benar kata orang-orang, kalau membawa mobil matik itu jauh lebih mudah daripada mobil manual. Aku yang 'baru' 25 tahun memegang SIM A dengan mobil manual, tentu harus pede membawa matik yang katanya lebih simpel. Alhamdulillah, dalam hitungan menit, aku sudah nyaman berada di dalam mobil kelas small-medium sedan itu (sekelas Corolla Altis dan Honda Civic).

Pada praktiknya, konvoi yang dipandu mobil patroli polisi dan mobil panitia, serta mobil logistik, fotografer/videografer, plus tim kesehatan itu, tidak berjalan dengan kecepatan sedang, seperti dibilang team leader --seorang pria Thai usia 60-an, yang berlaku seperti instruktur mengemudi mobil itu.

Rombongan berjalan dengan kecepatan di atas 100 kilometer per jam! Padahal jalan yang digunakan jalan umum biasa. Bedanya dengan Indonesia, kelas jalannya kelas 1 (sekelas jalan tol Jagorawi). Pemakai jalan lain cenderung lebih tertib. Mungkin karena konvoi kami menggunakan vorijder sedan polisi, yang juga bermerek Ford Focus (tipe lama). Yang tampak ajaib, pengendara sepeda motor meluncur manis di bahu jalan, sama sekali tak ingin jadi saingan mobil, seperti biasa terjadi di Jakarta.

Jarum di speedometerku menunjukkan angka 120 kpj, tapi mobil di depanku terpaut cukup jauh. Aku mengimbanginya dengan menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil 2000 cc 170 tenaga kuda itu pun ngacir.

*Selesai test drive yang cukup membangkitkan adrenalin itu, iseng-iseng aku tanya soal kecepatan saat konvoi. Temanku ada yang menjawab 140 kpj dan 150 kpj. Pantas aku sering tertinggal oleh mereka.

Bahkan menurut Pak B, bos PT FMI, yang juga mendampingi test drive oleh para dealer se-Jabodetabek pada hari berbeda, kecepatan yang dicapai peserta ada yang mencapai 200 kpj! Hingga si pak tua team leader yang dijuluki "si opa" itu pun berteriak-teriak lewat HT, agar si tukang ngebut itu memperlambat laju kendaraannya. "Hei, no speed! No speed!" Alhamdulillah, semuanya berjalan aman dan lancar.

Foto-foto: Tian Arief, detikoto.com, stephenlangitan.com



Labels: , , ,

Saturday, April 29, 2017

Mengetes Ford Focus di Krabi, Thailand

Ini pengalaman pertamaku menyetir di luar negeri (tanpa pakai SIM Internasional, hehe) dan pengalaman pertama membawa mobil dengan transmisi matik. Mobil yang bagus, sayangnya kini APM-nya sudah hengkang dari Indonesia, akibat ketatnya persaingan pasar. Berikut laporannya di majalah CARS PLUS edisi Agustus 2012. 

LEBIH GAYA DENGAN PERINTAH SUARA


CARS PLUS | AGT ‘12






Ford Focus terlahir sebagai mobil berteknologi pintar, ramah lingkungan, dan aman. Sepintar apakah All-New Focus yang dalam waktu dekat ini bakal hadir di Indonesia?

CARS bersama 19 jurnalis lainnya mendapat kehormatan menjadi 20 orang Indonesia pertama yang “mencicipi” keandalan small-medium sedan andalan Ford ini, dalam program bertajuk All-New Ford Focus International Media Drive di Thailand, pertengahan Juli lalu. PT Ford Motor Indonesia (FMI), agen pemegang merek Ford di Indonesia, mengajak CARS dan wartawan lainnya untuk merasakan ketangguhan model teranyar dari Ford Focus di Krabi, Thailand Selatan.

Sebanyak 14 unit All-New Focus varian tertinggi, terdiri dari sedan empat pintu dan hatchback lima pintu, bermesin empat silinder 2.0 liter otomatis 6 kecepatan, menyusuri rute dengan beragam kondisi, dilatarbelakangi pemandangan indah di luar kota Krabi.

Perjalanan dibagi menjadi enam etape, sejauh total 155,4 km, dimulai dari hotel tempat kami menginap, Sheraton Krabi Beach Resort. Penulis mendapat kesempatan pertama menjajal All-New Focus tipe hatchback berwarna merah menyala yang sporty.

Pada etape pertama menuju Thanbok Khoranee National Park sejauh 54,5 kilometer, performa mesin Ti-VCT GDi 2.0 yang begitu halus mulai terasa saat menyusuri jalan luar kota yang didominasi pemandangan alam yang menakjubkan.

Betapa tidak, di kanan-kiri jalan terdapat hutan tropis yang dilatarbelakangi perbukitan batu kapur khas daerah pesisir Andaman.

Teknologi Pintar

Saat rombongan memasuki perkotaan yang sama sekali tidak ramai --untuk ukuran kota-kota di Indonesia-- jalan terbentang lurus, mulus. Pengguna jalan begitu tertib, sepeda motor berjalan di jalur paling kiri, dan mobil di jalur kanannya. Sayangnya, pengendara sepeda motor di sini, tampaknya, tak wajib pakai helm sebagai pelindung kepala.

Ini saat yang tepat untuk menguji Drive Connected berupa Ford SYNC, yakni platform perangkat lunak canggih buatan Microsoft yang menghubungkan pemutar media digital dan telepon seluler yang dilengkapi Bluetooth dengan All-New Focus. Jadi, pengguna cukup melakukan itu semua lewat perintah suara, dengan jawaban berupa suara pula dari SYNC.

Misalnya, saat kita ingin mendengarkan lagu, kita tinggal mengaktifkannya lewat perintah suara. Maka komputer pun akan memilihkan dan memainkan musik yang kita inginkan yang ada pada koleksi musik pada pemutar digital (ponsel atau USB drive). Seperti “Play genre Rock”. Jika pengguna tidak ingat lagu yang sedang diperdengarkan, maka bisa bertanya “What’s this?”

Juga saat menerima pesan singkat (SMS) dari ponsel, pengemudi tak usah mengalihkan perhatiannya dari jalan yang akan dilalui, walau sejenak. SYNC dapat membacakan SMS yang masuk, bahkan menerjemahkan singkatan dan emoticon yang sering digunakan, seperti LOL (artinya, tertawa keras) dan :-) (tersenyum).

Pengguna bisa membalas pesan menggunakan 15 pesan keluar yang telah tersedia. Catatannya, semua perintah suara maupun perintah untuk pesan singkat harus disampaikan secara tegas dan jelas dalam bahasa Inggris yang dilafalkan secara fasih.

Stabil Menikung

Tiba di Thanbok Khoranee National Park, yang merupakan cagar alam tempat aliran sungai yang memasuki gua, menembus pegunungan ke Ao Luk Tai, sebelum bermuara di Laut Andaman, kami pun beristirahat sejenak. Setelah itu, etape kedua pu dimulai, yakni menuju Nop Pring SAO sejauh 42,8 kilometer.

Rute yang dilalui merupakan jalan pegunungan dengan penuh tanjakan/turunan dan kelokan, serta hutan hujan tropis yang masih alami. Ini mengingatkan penulis pada jalur Sukabumi-Palabuhanratu, Jawa Barat. Bedanya, jalan di sini jauh lebih lebar dan sepi dari kendaraan yan lalu-lalang.

Inilah saat yang tepat untuk menguji Torque Vectoring Control (TVC), berupa teknologi yang mendukung kelincahan dan kestabilan saat menikung. TVC ini berfungsi seperti limited-slip diffential untuk terus menyeimbangkan distribusi torsi antara roda depan penggerak. Saat roda kemudi ditekuk secara ekstrim sewaktu melewati tikungan tajam, kendaraan sama sekali tak mengalami gejala limbung.

Dari etape dua, kami berganti kendaraan, untuk melanjutkan perjalanan menuju Borsaen Villa sejauh 29,8 kilometer. Kali ini, penulis mencoba tipe sedan yang lebih “jinak” dibanding si sporty hatchback, namun lembut bantingan suspensinya. Adanya mode S (sport) dan teknologi SlectShift yang memungkinkan mengganti roda gigi secara manual, sangat membantu penulis untuk menaklukkan tanjakan-tanjakan curam.

Tiba di Borsaen Villa, yang merupakan resor wisata yang indah, kami langsung disuguhi makan siang dengan makanan khas Thailand, yang didominasi makanan laut, plus aneka buahnya yang terkenal.

Mampu Parkir Sendiri

Usai makan siang, kami ditantang untuk menguji teknologi pintar yang hanya dimiliki mobil-mobil yang memudahkan pengguna untuk melakukan parkir paralel. Parkir seperti ini banyak ditakuti para pemula, terutama kaum hawa, ketimbang parkir berjajar seperti biasa. Tapi ketakutan itu bisa ditepis dengan teknologi APA.

Cara kerjanya, sensor diaktifkan. Misalnya, saat akan parkir paralel di sebelah kiri, sensor sebelah kiri yang diaktifkan. Lalu mobil disejajarkan dengan mobil di depan. Setelah sensor bisa membacanya, kita tinggal memundurkan kendaraan untuk memasuki sela-sela di antara dua mobil, dengan sama sekali melepas roda kemudi (setir)!

Komputerlah yang akan memandu kemudi, sedangkan kita tinggal mengatur posisi gigi, gas dan rem saja. Hasilnya sungguh menakjubkan; mobil bisa terparkir sendiri dengan rapi. Tapi, jika kita sentuh roda kemudi, selagi sistem itu beroperasi, maka APA pun akan batal, dan kita harus meneruskannya secara manual.

Tenaga Besar, Irit Bahan Bakar

Etape selanjutnya, kami diarahkan ke Plai Phraya sejauh 52 kilometer, dan Super Highway 44 sejauh 15,1 kilometer. Pada perjalanan menjelang sore itu, kami diguyur hujan sangat deras. Namun hal itu tak menjadi rintangan dalam perjalanan kami.

Wiper pun diaktifkan untuk menyapu air hujan yang menghalangi pandangan di kaca depan. Wiper cerdas ini beroperasi sesuai dengan intensitas air hujan yang jatuh menerpa kaca. Jika hujan besar, wiper bekerja secara penuh. Namun jika hujan mulai mereda, berupa titik-titik air, wiper pun bekerja sekali-sekali.

Perjalanan etape terakhir melewati Super Highway 44 (jalan umum sekelas tol Jagorawi, dan tak berbayar), sungguh menakjubkan. Kendati pemimpin perjalanan sudah mewanti-wanti agar kami mengurangi kecepatan kendaraan, tetapi para peserta rupanya ingin menguji top speed dari mobil bermesin 2.0 liter gasoline direct injection dan twin independent variable camshaft timing, dengan output 170 PS/202 Nm itu. Mobil dipacu dengan kecepatan 140-150 kilometer/jam, bahkan ada yang mencapai 200 kilometer/jam, dengan daya cengkeram ban tetap terasa optimal.

Mengendarai All-New Focus, yang dalam waktu dekat ini masuk ke Indonesia (termasuk yang bermesin 1.6 otomatis PowerShift 6 kecepatan), sungguh pengalaman yang menyenangkan.

Meski bertransmisi otomatik, mobil ini tak identik dengan boros, sebagaimana anggapan pada umumnya. Ini dimungkinkan dengan adanya mesin empat silinder baru yang canggih, gasoline direct injection, teknologi Ti-VCT, plus transmisi otomatis PowerShift.

Menjelang maghrib, kami pun tiba selamat di hotel dengan segudang cerita menyenangkan. ***

Keterangan: Foto: Tian Arief, StephenLangitan.Com

Labels: , , ,

Friday, April 28, 2017

Mengetes Toyota Calya di Jawa Tengah

Ini sebenarnya laporan perjalananku akhir tahun lalu, yang diaplod di CARS Plus/GATRAnews, dan sekarang dihadirkan di blog ini. Selamat mengikuti. :) 

Menyusuri 'Jantungnya Jawa' dengan Toyota Calya







GATRA - Saturday, 17 September 2016 13:54

Semarang, GATRAnews - Toyota Calya dinobatkan sebagai mobil Toyota terlaris di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016 di BSD City, bulan lalu, dengan angka penjualan 2.225 unit. Apa sih yang membuat publik begitu antusias memilih MPV 7 penumpang itu sebagai mobil keluarga? Apakah hanya karena harganya yang murah (karena berkategori LCGC)?

Pucuk dicinta ulam tiba. Cars Plus mendapat undangan dari PT Toyota-Astra Motor (TAM) untuk menguji "mobil sempurna" (calya = sempurna, bahasa Sansakerta) ini, dari Semarang ke Solo di Jawa Tengah, pertengahan pekan ini.

Subuh, 14 September 2016, dari Bandara Internasional Soekarno Hatta Tangerang, Cars Plus bersama belasan wartawan online dari Jakarta lainnya berangkat menuju Semarang dengan penerbangan pertama. Tiba di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, setelah dibuka oleh Manajer Humas TAM Rouli Sijabat, acara bertajuk "All New Calya a Wonderful Journey" pun dimulai. Kami, dengan menumpang Toyota Hiace Commuter, menuju destinasi pertama; Valle Pizza E Resto, yang berada di atas bukit yang memungkinkan pengunjung bisa melayangkan pandangan ke seluruh Kota Semarang.

Pagi yang cerah, di halaman resto sudah terparkir lima unit Calya yang masih gres, berpelat nomor putih Semarang (H). Kelima unit test drive tersebut terdiri dari dua unit bertransmisi manual (M/T) dan tiga lainnya matik (A/T), semuanya tipe G atau kasta tertinggi. Calya bertampang "keen look" seperti anggota keluarga Toyota yang lain, dengan ciri khas lampu depan hexagonal bersudut tajam. Kami -yang dibagi-bagi dalam kelompok yang terdiri dari empat jurnalis- mendapat giliran menguji Calya G A/T.

Setelah sarapan dan konferensi pers dengan Executive General Manager Area Management PT TAM Anton Jimmi Suwandy dan Marketing Director Nasmoco Group Diler Toyota Jateng dan DIY Hartono Dinata, kami pun menggunakan unit test drive masing-masing bertolak menuju Mal Paragon di pusat Kota Semarang, untuk mengikuti acara "Media Gathering Let's Go Beyond Central Java".

Memasuki Calya merah ferrari yang tampak sedikit lebih pendek dari "kakaknya", All New Avanza, ternyata tak sesulit yang diduga. Kabinnya cukup lega, posisi duduk cukup nyaman untuk mobil sekelas LCGC, dengan visibilitas yang baik. Semua fitur di dasbor masih dalam jangkauan, dan hadirnya sandaran tangan (arm rest) pada kursi depan, membuat nyaman pengemudi, terutama saat melakukan perjalan jauh.

Tuas rem tangan yang diletakkan di bawah sandaran tangan berbentuk melebar seperti tuas di pesawat terbang. Mudah dioperasikan dan ergonomis. Tuas transmisi di dasbor membuat ruang kaki kabin pengemudi sangat lapang.

Kami menyusuri kota Semarang yang ramai lancar. Dengan transmisi otomatis 4 percepatan pada posisi D4, Calya nyaman dikendarai, terutama saat stop and go di lampu merah. Tiba di Mal Paragon di Jalan Pemuda Semarang, kami diarahkan ke parkiran basement (B2). Kemudi yang dilengkapi electronic power steering (EPS) dipadu radius putar yang kecil (4,3 m, dengan wheelbase 2.525 mm), memudahkan kami bermanuver di parkiran basement dan juga parkir di tempat yang sempit atau pas-pasan.

Dari Mal Paragon, kami menuju Restoran KoenoKoeni di Jalan Tabanan untuk makan siang, sekaligus memulai test drive menuju Kota Solo -yang dijuluki "The Hearth of Java" (jantungnya Jawa) sejauh 109 kilometer. Cuaca siang yang cukup terik tak terasa di dalam kabin Calya, kendati duduk di baris kedua. Calya tak mengadopsi AC double blower di plafon (untuk menekan ongkos produksi), melainkan pakai air circulator alias kipas angin yang mengalirkan udara sejuk dari depan ke belakang. Air circulator ini diklaim pertama di Indonesia untuk mobil jenis MPV.

Setelah makan siang, mendengarkan penjelasan teknis dan product knowledge Toyota Calya, kami bersiap-siap melakukan perjalanan antar-kota menuju Solo, melewati Tol Bawen. Barang-barang kami, berupa tas-tas besar dimasukkan ke dalam bagasi dengan kursi baris ketiga dilipat. Dalam keadaan kursi baris ketiga terlipat, Calya memiliki bagasi yang terbilang besar di kelasnya; 503 liter!

Di siang yang cerah itu kami, lima unit Calya yang ditumpangi wartawan media online dari Jakarta plus wartawan dari Jawa Tengah, diiringi panitia dan tim pendukung menggunakan All New Kijang Innova dan All New Avanza, meluncur menuju pintu Tol Bawen. Kami terlibat dalam kemacetan lalu lintas dan antrian panjang, saat memasuki pintu Tol Bawen. Rupanya ada kegiatan perbaikan jalan. Jalanan macet dan jalur menanjak (seperti di Puncak, Bogor) dilalui dengan mudah berkat transmisi matik 4 percepatan, yang tak mengharuskan pengemudi menginjak kopling.

Namun ada sedikit masalah dengan pedal gas, yang ternyata harus diinjak lebih dalam saat di tanjakan maupun mengejar anggota rombongan yang lain, untuk menghasilkan akselerasi yang diinginkan. Menurut anggota tim teknis TAM, itu karena Calya sudah mengadopsi drive by wire dan mobil ini didesain untuk mobil keluarga, sehingga pedal akselerasi perlu diinjak lebih dalam untuk gaya mengemudi yang agresif.

Dengan teknik mengemudi kick down dipadu kombinasi gigi D4, 3 dan 2, dengan timing yang tepat, Calya bisa diajak berlari di jalan tol yang dipenuhi tanjakan itu. Dengan mesin dual VVT-i 1.2, dengan daya 88 DK/6.000 RPM, dan penggerak roda depan, Calya bisa mencapai 120 kilometer per jam dalam waktu yang tidak terlalu lama, meski bodi terasa sedikit melayang. Namun kecepatan seperti ini tidak disarankan, mengingat Calya tidak didesain untuk kebut-kebutan.

Keluar Tol Bawen kami menuju restoran yang berada di atas bukit; Eling Bening Garden & Resto, Ambarawa. Jalan sempit, menanjak, dan bergelombang, bisa dilalui dengan nyaman berkat suspensi depan yang menganut MacPherson Strut with Coil Spring and Stabilizer dan suspensi belakang Semi Independent Torsion Axle Beam with Coil Spring, dipadu ban radial 175/65R14 sebagai ban standar Calya.

Pemandangan Rawa Pening dan pegunungan dari Kawasan Wisata Eling Bening (GATRAnews/Tian Arief)

Di Eling Bening, yang memiliki pemandangan menakjubkan berupa perpaduan Rawa Pening dan pegunungan itu, setelah melakukan games yang menghibur, berfoto-foto dan minum kopi sore, kami bersiap-siap menuju perhentian selanjutnya melewati jalan non-tol yang ramai lancar.

Menjelang magrib, kami tiba di rest area Elang Sari untuk beristirahat sejenak. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Hotel Best Western di perbatasan Kota Solo dan Sukoharjo, dan bermalam di sana.

Pagi hari, 15 September 2016. Setelah melakukan tukar kendaraan (dari matik ke manual, atau sebaliknya), kami check-out dari hotel dan berangkat menuju restoran Soto Gading Solo untuk sarapan. Kali ini, Cars Plus giliran membawa Calya G M/T alias bertransmisi manual 5-speed. Berbeda dengan tipe matik, Calya manual ini lebih lincah kala diajak bermanuver di dalam kota yang tak terlalu ramai itu.

Dengan perbandingan gigi akhir 5.077, Calya M/T -yang kebetulan sama-sama berwarna merah ferrari ini- terasa enteng saat diinjak gasnya. Karakternya tak berbeda jauh dibanding "kakak kandungnya", All New Avanza. Hanya saja, posisi tuas persneling di dashboard perlu sedikit penyesuaian, karena Cars Plus sering salah pegang di bagian kosong (antara kursi pengemudi dan penumpang), saat mau mengoper gigi.

Setelah menghabiskan semangkuk soto Gading (Gading merupakan nama daerah di Solo), kami diarahkan menuju Museum Batik Danarhadi di Jalan Brigjen Slamet Riyadi. Di sana kami mendapat penjelasan dari A sampai Z tentang proses pembuatan batik, melihat koleksi berbagai jenis batik dari berbagai masa, sekaligus melakukan praktek membuat batik tulis dengan pola sederhana di atas kain mori seukuran sapu tangan.

"Wonderful Journey" ini berakhir di Omah Sinten, resto khas Solo yang berada di Jalan Diponegoro, di dekat Kraton Mangkunegaran. Setelah makan siang, pengumuman kelompok terbaik, dan pemilihan peserta "yang ter", kami berpisah dengan Calya unit test drive yang sudah menemani kami dua hari ini.

Dengan menumpang Hiace Commuter, kami menuju Bandara Internasional Adi Sumarmo Boyolali untuk mengejar penerbangan sore menuju Jakarta.

Kesan-kesan yang Cars Plus dapat selama dua hari bersama Calya, dibanding kompetitornya, sebut saja Datsun Go+ Panca, yang harganya sedikit di bawah Calya (G A/T 150 juta OTR Jakarta, dan G M/T 138 juta OTR Jakarta), Calya memiliki ruang baris ketiga yang lebih memadai, headrest terpisah di jok tengah dan belakang, punya power outlet (untuk mengecas ponsel) di baris kedua, fitur bluetooth, dual airbags, ABS, jok tengah dengan pengaturan lengkap dan bisa dilipat dengan komposisi 60:40, serta sensor parkir di bumper. Kualitas pengerjaannya pun terbilang baik.

Selanjutnya pilihan terserah anda. Mau mobil LCGC berharga hemat dengan fitur minimalis, atau membayar lebih untuk sebuah kenyamanan dan keamanan maksimal bagi penumpangnya.

Reporter: Tian Arief


Keterangan: Foto-foto Dok PT TAM & Tian Arief

Labels: , , ,

Mengetes Mini SUV-nya Suzuki

Suzuki Ignis, mobil kompak yang diimpor secara utuh dari India, kendati bentuknya mungil, tidak disebut mobil perkotaan (city car) atau mobil berpantat tepos (hatchback). Suzuki menamakannya sebagai "Urban SUV". Itu karena jarak terendah ke tanah (ground clearance)-nya terbilang tinggi, yakni 180 mm. Hampir sama dengan New Suzuki Jimny -SUV sejati- yang ground clearance-nya 190  mm. Dengan radius putar kecil (4,7 meter), mobil ini bisa menjadi city car plus, karena diklaim tak terlalu takut menghadapi banjir yang sering melanda perkotaan. Ini laporan test drive yang kutulis, setelah seharian bersama varian teranyar Suzuki ini; 

Menjadi Kaum Urban Bersama Suzuki Ignis

GATRA - Wednesday, 26 April 2017 18:32


Jakarta, GATRAnews - Predikat Urban SUV (Sport Utility Vehicle) yang disematkan PT Suzuki Indomobil Sales pada produk teranyarnya, Suzuki Ignis, dibuktikan pada test drive bertajuk "Urban Race", yang digelar di Kota Jakarta, Selasa (25/4). Sebanyak 40 jurnalis dari berbagai media menguji keandalan mobil hatchback bermesin K12M 1.2 liter (sama dengan mesin Suzuki Splash) di keramaian lalu lintas Ibu Kota, sekaligus merekonstruksi gaya hidup kaum urban Jakarta.

Pertama melihat sosoknya, Suzuki Ignis ini mengusung konsep Clam Shell Bonnet yang tampak stylish dan modern. Grille depan dirancang memanjang, mencakup lampu utamanya. Lampu utamanya mengingatkan pada desain lampu salah satu kendaraan produksi Eropa, yang rapi dan mewah. Dari sisi samping, tampak sekali ciri khas SUV kompak yang berpostur tinggi. Pada sektor belakang, terdapat over fender dan High Mount Stop Lamp berteknologi LED dan Rear Combination Lamps, yang seimbang dengan lekuk bodi belakang Suzuki Ignis, yang lagi-lagi mengingatkan pada desain kendaraan Eropa.

Perjalanan 14 unit Suzuki Ignis tipe GX (tipe tertinggi) bertransmisi manual (M/T) dan AGS (Auto Gear Shift atau Automated Manual Transmission/AMT) itu dimulai dan diakhiri di Art Hotel Thamrin Jakarta Pusat. Sehari penuh, GATRA CARS merasakan bagaimana kehidupan kaum urban Jakarta, mulai dari pilihan kendaraan mereka yang kompak dan irit BBM, dan menyambangi tempat-tempat gaul semisal adventure park dan mal. GATRA CARS bersama seorang rekan jurnalis lainnya, mengendarai Ignis tipe transmisi manual 5 percepatan.

Tujuan pertama adalah Houbii, urban adventure park yang berlokasi di Pondok Indah Jakarta Selatan. Di fasilitas olahraga outbond yang berada di dalam ruangan (indoor) itu, para jurnalis ditantang untuk melakukan permainan kaum urban masa kini: ninja games yang melewati berbagai halangan dan rintangan. Sebuah permainan yang benar-benar menguras stamina.

Dalam perjalanan menuju kawasan elit di Jakarta Selatan itu, jalur yang diambil adalah Thamrin-Tanah Abang-Arteri Pondok Indah. Kami melewati jalur yang super sibuk khas Pasar Tanah Abang, yang didominasi gerobak-gerobak barang. Suzuki Ignis yang kami kendarai melaju pelan membelah padatnya arus lalu lintas, namun berkat dimensinya yang mungil (3.700 mm x 1.690 mm x 1.595 mm), mobil ini lincah enak diajak bermanuver, hingga berhasil meloloskan diri dari situasi yang menjadi "santapan" keseharian kaum urban.

Selepas Pasar Tanah Abang, bodi mungil Ignis yang berdapur pacu 1.197 cc dengan daya maksimum 83/6.000 RPM, yang menghasilkan torsi 113 Nm/4.200 RPM, melesat enteng di jalur yang ramai lancar itu, menuju arah selatan. Kami tak merasa khawatir memacu  kendaraan, karena Ignis sudah dibekali fitur Dual SRS Airbag, Anti-lock Braking System (ABS) dan Electronic Brakeforce Distribution (EBD), serta Brake Assist, yang membuat kinerja pengereman menjadi maksimal.

Selain itu, kami dimanjakan bucket seat yang seakan "memeluk" punggung dan headrest yang dapat disetel ketinggiannya, sehingga perjalanan perjalanan di dalam kota yang penuh hambatan itu tidak terasa menyiksa. Apalagi kendaraan yang kami kendarai dibekali Head Unit yang dilengkapi beberapa fitur hiburan, seperti radio dan pemutar musik CD atau USB dengan format MP3 atau WMA, sehingga akan membuat pengguna bisa memainkan musik favorit sambil berkendara.

Namun warna putih di atas hitam pada dashboard, terasa menyilaukan mata. Untunglah ada aksen sewarna bodi pada bagian Doortrim dan konsol tengah, lengkap dengan simbol setrip tiga khas Suzuki Ignis dan Suzuki Fronte.

Memasuki kawasan Pondok Indah, kami dengan mudah menemukan lokasi Houbii, untuk kemudian melakukan permainan yang mengandalkan kekuatan fisik dan strategi, sekadar refreshing melepaskan diri dari rutinitas yang melelahkan. Usai bermain, hari menjelang sore, dan hujan turun membasahi bumi.

Kami beriringan menuju Pondok Indah Mall (PIM) 2, untuk melakukan kebiasaan kaum urban Jakarta: nge-mall. Jarak dari Houbii menuju PIM 2 yang tak seberapa jauh, ditempuh lebih dari setengah jam, karena macetnya lalu lintas di bundaran Pondok Indah. Guyuran hujan yang tidak terlalu deras di kaca depan, cukup ditangkal wiper dengan pilihan interval 2 - 3 detik. 

Atas instruksi polisi yang bertugas, kami berputar arah sebelum bundaran. Memutar 180 derajat itu dilakukan dengan mudah, tanpa memakan ruang yang banyak, mengingat radius putar Ignis terbilang kecil, yakni 4,7 meter.

Usai nge-mall, hari sudah gelap disertai hujan. Kami berjalan beriringan menembus kemacetan di jam pulang kantor itu. Lampu utama LED projector memberi penerangan maksimal, tanpa menyilaukan kendaraan dari arah sebaliknya.

Karena kami harus tetap menjaga jarak agar tidak terpisah satu dengan lainnya, tak jarang kendaraan harus direm agak mendadak. Namun ABS, yang merupakan perlengkapan standar tipe Ignis yang kami kendarai, membuat pengereman terasa lembut.

Pada jalan yang tidak rata karena ada proyek konstruksi jembatan layang, bantingannya tidak heboh, berkat suspensi McPherson Strut dengan coil spring pada suspensi depan dan Torsion Beam dengan coil spring pada suspensi belakang.

Setelah menembus kemacetan yang "sudah menjadi tradisi", kami pun tiba di tujuan akhir, yakni Art Hotel Thamrin, dengan perasaan senang, karena sudah mendapatkan pengalaman baru mengendarai mini crossover pertama di Indonesia yang membidik pasar kaum urban.

Reporter: Tian Arief

Labels: , , ,