Sunday, July 09, 2017

Kode Angka Tipe Peugeot

Dari dulu sampai sekarang, tipe-tipe mobil produksi Peugeot selalu menggunakan kode-kode angka. Misalnya, 201, produk pertama mobil berlogo singa berdiri itu (1929); kemudian 504, sedan yang diproduksi pada 1960-1970-an; atau 5008, MPV (<em>multi-purpose van</em>) alias mobil van serba-guna terkini yang dipasarkan di Indonesia.

Pernahkah Anda melihat tipe mobil Peugeot yang tidak memakai angka nol? Pabrikan mobil Prancis itu selalu menggunakan angka 0 di tengah kode angka produk yang mereka produksi, seiring dengan peluncuran Peugeot 301, pada September mendatang. [Tentu saja, ada kekecualian; tipe RCZ, mobil sport 2 pintu yang sudah dipasarkan di Indonesia]. 

Secara garis besar, kode-kode angka tipe mobil Peugeot itu dibaca sebagai berikut: 
* Digit pertama mewakili ukuran dan segmen kendaraan.
* Digit kedua (angka 0), merupakan representasi perusahaan mobil premium Prancis itu.
* Digit ketiga menunjukkan generasi kendaraan.

Mulai dekade 1990-an, sistem penamaan dengan angka itu mulai ditambahi huruf ganda, seperti CC atau SW, untuk menunjukkan karakter tertentu dari kendaraan tersebut.

Mulai 2005, Peugeot mulai menggunakan dua angka nol di antara kode angkanya, untuk menunjukkan bahwa model yang menyandang dobel nol (00) itu adalah model yang memiliki struktur tubuh yang lebih tinggi (van atau crossover), seperti 3008 dan 5008.

Kini, Peugeot menegaskan, mereka tidak akan mengubah kode angka kendaraan-kendaraan produksi mereka ketika diperbaharui, kendati digit pertama tetap merepresentasikan segmen kendaraan, dan digit kedua angka nol, dan digit ketiga yang kini sudah mencapai angka 8 akan menjadi yang terakhir. Jadi kemungkinannya akan kembali ke angka 1 lagi.

Peugeot 301 akan menjadi yang pertama menerapkan sistem penamaan-nomor baru tersebut. Angka 1 di belakang menunjukkan kalau mobil ini adalah mobil yang benar-benar baru. Peugeot menyatakan bahwa akhiran angka 8 yang sudah ada akan dipertahankan hingga kendaraan itu berganti model sepenuhnya.

Nah, sekarang bagaimanakah cara anda melafalkan nama "peugeot"? :D

Sumber: detikoto.com
Foto: Getty Images

Labels: , , , ,

Monday, April 18, 2016

Pilih Restorasi Atau Baru?



Mobil ini tampak seperti baru keluar dari pabrik. Padahal ini mobil lawas, produksi 1997, kemudian direstorasi. Pelakunya, bengkel restorasi Atsashi Sumoto's Garage. Rapi kali ya? ;)


Aslinya, mobil ini Suzuki Katana 4x2 1997, yang kemudian berubah konsep jadi Suzuki Jimny SJ30 (4x4) 1984 -sebuah model versi JDM yang hanya beredar di pasar Jepang.   

Suku cadangnya, menurut Andre dari rumah modifikasi itu, didatangkan langsung dari Jepang, antara lain, pelek berukuran 16 inci (aslinya 15 inci). Juga suku cadang lainnya.

Pengerjaannya  pun tidak mudah, perlu satu tahun lebih untuk menggarap Katana yang bereinkarnasi menjadi Jimny SJ30 itu.

Catnya pun dibuat seorisinil mungkin, dengan mempertahankan nat yang ada. Termasuk lis yang ada di atap, yang butuh waktu pengerjaan selama satu bulan.


Berapa biaya untuk merestorasi mobil sampai tampak seperti baru keluar dari diler ini? Andre mengatakan, biayanya mencapai Rp 200 jutaan. Harga itu sudah termasuk suku cadang, namun belum termasuk harga mobil itu sendiri.

Di pasaran  mobil bekas, harga Katana 1997 sekitar Rp 50 jutaan. Jadi, untuk mendapatkan satu unit mobil Jimny  SJ130 "baru", paling tidak kita harus merogoh kocek Rp 250 jutaan.

Sedangkan harga All New Jimny (4x4), yang tidak lama lagi bakal diproduksi Suzuki Indomobil, di kisaran Rp 230-Rp 280 juta.


Anda mau pilih mana? Semuanya  terserah Anda. :)

Sumber: http://www.otosia.com/berita/restorasi-katana-97-seperti-baru-keluar-dari-dealer.html
Foto: Otosia.com, http://www.iotomotif.com/perkiraan-harga-suzuki-jimny-di-indonesia/45338





Labels: , , , ,

Thursday, November 13, 2014

Bikin Telat Ngantor, Mobil Dikapaki

Kalau harapannya membeli mobil untuk mempercepat waktu tempuh  ke kantor, ini salah besar. Karena kemacetan lalu lintas saat jam kantor, membuat mobil justru terhambat lajunya. Ini logika orang Jabodetabek. Ternyata ini berlaku juga di Italia.

Spartco Capon, seorang pria asal Lissone, Italia, sangat kecewa karena terlambat kantor dan dimarahi bosnya, gara-gara memakai mobil barunya. Bukan cuma itu, ia mengamuk tanpa kendali dan menghancurkan Fiat 500 barunya dengan kapak.

Menurut Worldcarfans, edisi Selasa (11/11), yang dikutip Liputan6.com, Kamis (13/11), mobil yang dibelinya dengan harga mahal itu, agar dirinya terhindar dari bulan-bulanan sang bos gara-gara telat ngantor, malah mogok.

Pria 35 tahun itu  pun tak bisa membendung amarahnya, mengambil kapak, dan merusak seluruh bodi mobil, termasuk sebagian kacanya.

Pihak keamanan pun turun tangan, dan mengirim pria aneh itu ke rumah sakit, guna pemeriksaan kesehatan jiwanya.

BroCapon, kami di Jabodetabek sih, kalau ingin tidak telat tiba di kantor, biasanya berangkat lebih subuh, menggunakan KRL, bersepeda motor ria, atau malah bersepeda, untuk "berselancar" di kemacetan. Asik kan? Bukannya ngamuk pada mobil yang tidak bersalah. Lagian, duitnya kan duit ente sendiri. Yang rugi lu lu juga. :P

Keterangan: Foto atas: Fiat 500 dalam keadaan mulus. Foto bawah: Fiat 500 setelah dipermak Si Capon (my-lhd.co.uk).



Labels: , ,

Tuesday, November 11, 2014

Motor Haram Masuk Jalan Protokol, Mobil Gimana?

Mulai Desember 2014, sepeda motor bakal diharamkan alias dilarang memasuki jalan protokol di Kota Jakarta, khususnya dari mulai Jalan MH Thamrin-Bundaran HI hingga Jl Medan Merdeka Barat-Harmoni. Larangan itu dikeluarkan Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, setelah melakukan pertemuan dengan Kadis Perhubungan DKI M Akbar dan Wadirlantas Polda Metro Jaya AKBP Bakharuddin Muhammad Syah, Senin kemarin.

Alasannya sih, kata Ahok, demi kepentingan pengendara motor itu sendiri, terlebih anak di bawah umur. Selain itu, juga untuk menekan angka kemacetan. Menurut pejabat DKI yang terkenal dengan sikapnya yang tegas dan keras itu, pihaknya ingin menekan angka kecelakaan sepeda motor, yang per tahunnya mencapai 45 ribu orang. Katanya, dua sampai tiga orang tewas setiap harinya. 

Terus, bagaimana cara pengendara motor bisa mengakses tempat tujuan yang berada di antara Bundaran HI dan Harmoni? Ahok menjanjikan bus tingkat gratis, yang akan membawa pengendara motor, setelah motornya di parkir di tempat parkir terdekat.

Bagiku, yang sehari-hari menggunakan sepeda motor, dan kadang-kadang ada keperluan ke salah satu gedung di wilayah terlarang sepeda motor itu, larangan itu nggak terlalu masalah. Toh disediakan kendaraan alternatif, atau kalau pun tetap naik motor bisa lewat "jalan belakang", semisal Menteng, atau Kebon Kacang Tanah Abang.

Tapi aku kasihan sama para kurir atau petugas pos, yang sehari-hari bekerja menggunakan sepeda motor. Mudah-mudahan, larangannya tidak kaku bagi semua sepeda motor tanpa kecuali. Kebayang, para kurir harus memanggul barang naik bus, dan masuk keluar gedung-gedung yang jadi tujuannya.

Tapi kalau melihat alasan lainnya "demi menekan angka kemacetan (lalu lintas", ya mobil juga harus dibatasi dong. Bukan hanya dengan ERP (electronic road pricing) alias akses jalan berbayar, tapi juga pelarangan secara harfiah; mobil dilarang melanjutkan perjalanan, memarkirnya, lalu sambung naik bus. Cukup adil kan?

Keterangan foto: Coba perhatikan, bagaimana penuhnya barisan mobil yang sangat menyita tempat, memenuhi Jalan Thamrin (tribunnews.com).

Labels: , , , ,